• Menemani Debby Permata Membuat Vlog ke Banyuwangi

    Vlogging alias video blogging lagi rame banget ya? Apa sih vlog? Vlog  (dari kata video blog) adalah blog dengan medium video.  Kalau menurut penjelasan Andira di video ini, vlog adalah semua yang berhubungan dengan menuangkan pemikiran, perasaan dan pendapat pribadi dan terekam dalam bentuk video. Konten vlog? Biasanya berasal dari hal-hal yang dekat dengan keseharian kita, atau passion kita.

    Saking ramainya vlog dibicarakan di social media, Debby Permata pun jadi ingin mencoba membuat vlog juga. Akhirnya saya sarankan Debby untuk membuat vlog tentang travelling alias travelog (soalnya belum pernah jalan-jalan berdua sama Debby ehehehe).  Destinasi wisata yang kami pilih adalah Jawa Timur; Banyuwangi dan sekitarnya. Taman Nasional Baluran? Tentu kami ke sana. Lokasi seru lainnya yang kami jelajahi bisa langsung ditonton di video di bawah ini.
     

    Oh ya, jalan-jalan kali ini, kami perdana mencoba memesan tiket pesawat memakai Indonesia Flight app. Keren ternyata aplikasinya. Sekeren apa? Kalian pasti tahu kalau sudah menonton videonya sampai selesai. Hihihi…

    Sudahkah kamu nge-vlog hari ini? Apa kesulitanmu dalam membuat vlog? Boleh yuk diskusi di kolom komentar di bawah.

    Lokasi resto:
    Por Que No
    De RITZ Building LT. 5, Jalan HOS. Cokroaminoto No. 91, Menteng, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

    Bahan bacaan tentang vlog

  • Menjajal Kamera Full Frame di Sony Full Frame Festival

    Halo pembaca Goenrock.com! Perkenalkan saya Marcos, biasa dipanggil ybs. Pernah ngeblog, dan sekarang lebih suka merawat blog orang lain.

    Sabtu kemarin saya beruntung banget bisa ikutan Sony Full Frame Festival di Grand Hyatt bersama brader Goen. Secara saya masih pakai Sony A6000 dan menimbang-nimbang untuk upgrade ke seri A7. Beberapa kamera full frame yang sempat saya coba antara lain:

    Sony RX1RII

    Ini adalah seri kamera compact fullframe dari Sony yang dilengkapi dengan lensa 35mm dan resolusi 42.2MP, hasilnya foto yang tajam sampai detil sekecil apapun.

    RX1R II hi-res 1:100 f:5.6 ISO400

    #2 RX1R II hi-res 1:100 f:5.6 ISO400

    Sony a7SII

    Sony menyediakan satu ruangan tertutup khusus untuk mengetes kemampuan a7SII pada situasi low-light. Hasilnya sangat memuaskan! Dengan ISO32000 gambar tetap mulus dan minim noise. ISO maximum a7SII adalah 409600, tapi untuk video menurut kami di ISO32000 adalah batasan tertinggi agar tetap bersih dari noise. Upie Guava, videografer profesional, sempat mendemokan kemampuan kamera ini untuk mengakali syuting agar lebih praktis.

    Sony a7II

    Nah ini dia kamera yang saya incar. Saya sempat mengetes kamera ini di ruang terbuka pada saat sunset. Selain untuk foto, kamera ini juga cocok untuk video full HD karena dibekali fitur-titur professional video seperti S-Log2 gamma profile untuk kebutuhan color grading.

    https://www.flickr.com/photos/basibanget/25107316482/

    Sony FE 24-70mm F2.8 GM

    Salah satu dari lini lensa premium yang sempat saya coba di festival kemarin. Harganya lumayan juga ternyata.

    Kalau masih penasaran tonton saja video liputannya langsung.

     

     

    Panduan kalau mau langsung ke topik pilihan

    • 01:46 RX1R II hands-on & sample photos
    • 02:19 a7S II hands-on & sample footages
    • 02:54 G Master Lens hands-on & sample photos
    • 03:26 Keuntungan memakai sensor full frame
    • 04:11 Lensa full frame mirrorless besar & berat?
    • 04:29 Seri a7 banyak dan membingungkan
    • 05:24 Mirrorless kelas video (a7S) untuk foto?
    • 05:45 Teknologi mirrorless full frame dan daya tarik bagi videografer
    • 06:44 Keuntungan memakai 4K?

    Yang mau tanya-tanya silahkan tulis di bagian komentar. Nanti saya atau Goen akan coba jawab.

     

  • Travel Video Dengan Kamera Saku RX100 IV

    Ingin lebih serius di travel videography, tapi malas jika harus membawa kamera berukuran besar yang bikin berat barang bawaan? Atau sudah punya kamera mirrorless dan berencana membeli kamera backup berukuran ringkas dengan kualitas gambar yang tidak jauh berbeda dengan kamera utama?

    Akan saya jelaskan kenapa RX100 IV ini cocok banget untuk travel videography dan sebagai second cam. Namun sebelum membaca review saya, silakan tonton video terbaru yang saya syut dengan RX100 IV di 100fps sebagai teaser. 😀
     

    Premium Compact Camera
    Walau berukuran mungil, kamera saku ini bukan kamera yang bisa disepelekan kemampuannya. Di dalam RX100 IV banyak ditanam fitur-fitur profesional untuk video seperti yang ada di seri ILCE  (A7II, A7s, A7rII, A7sII). Continue reading

  • Vidio: Wadah Kreator Konten Video Indonesia

    Vidio.com? Apa itu?
    Iya, namanya Vidio, dari kata “video”. Apa yang membedakannya dengan video sharing service lain seperti Youtube dan Vimeo? Yang jelas ini buatan Indonesia, dengan konten yang lebih Indonesia pula tentunya.  Baru diluncurkan pada bulan Agustus tahun kemarin. Selain bisa menikmati segala macam tayangan tentang Indonesia baik itu musik, seni, budaya, film maupun sport, kita juga bisa jadi kreatornya lhoh. Saya sih sudah punya akunnya di vidio.com/@goenrock Belum umur sebulan dan baru ada 5 konten video. Hihihi…

    Konten video terbaru di akun Vidio saya

    Kualitas Gambar
    Resolusi video paling tinggi yang bisa diputar di Vidio adalah 720p (1280x720p). Jika ingin mengunggah video, cukup render ke resolusi 720p dengan bitrate video 5Mb/s saja, dengan format yang disarankan adalah MP4 (codec H.264). Semoga segera bisa mendukung format Full HD ya… Tapi 720p sudah cukup jernih kok buat ditonton di smartphone. Continue reading

  • Jalan-jalan Sore di Gili Bersama Dek Dalila Dari Praha

    Sebenarnya video ini sudah agak lama di-shoot.  Sejak bulan Agustus. Waktu itu saya  impulsif bakar tiket pulang ke Jakarta melipir ke Gili Trawangan sehabis acara #BrikPiknik di Bali. Seharusnya sih hanya extend semalam di Gili. Tapi demi dek Dalila,  yang ngegemesin ini,  akhirnya bakar tiket dua kali extend-nya jadi dua malam di Gili Trawangan. Ahihihi…

    Singkat kata, waktu itu saya nekad berkenalan dengan dek Dalila dari Praha yang sedang menikmati sarapannya di hotel yang sama tempat saya menginap di Gili. Kenapa nekad? Karena sudah lama saya ngebet banget bikin video travelling dengan model bule. Dan emang dek Dalila ini bikin gemes sih. Saya paling senang kalau mengedit foto atau video dengan model kaukasian. Skin tone-nya enak banget diapa-apain saat *color grading. Syukurlah, dek Dalila menerima pinangan saya dan mau divideoin setelah saya kasih contoh video-video yang pernah saya kerjakan dengan sedikit sepik-sepik iblis. Lalu kami pun sepakat membuat video di sore harinya sambil menikmati sunset di Gili Trawangan. Oke, saya pun batal pulang ke Jakarta hari itu.

    Dan inilah videonya. Jangan lupa subscribe ke kanal Youtube saya ya. Hehehe…
     

    Continue reading

  • MUZE Bluetooth Headphone – Music Experience Without The Wire

    Kali ini saya mencoba melakukan review sebuah produk headphone dengan koneksi nirkabel bluetooth. Iya, saya sendiri yang bakal ngecuprus di depan kamera. *hening sampai NASA menemukan kehidupan di planet Kepler*. Jadi ya siapkan bungkus rokok buat dilempar ke saya kalau penampilan saya di video ini bikin kesel sampeyan*dikata Srimulat*.  Asli, saya ndak pede sebetulnya harus tampil dan ngomong panjang kali lebar begini. Awalnya si Jenn yang seharusnya bawain review-nya. Lha kok bisa jadi saya? Sungguh saya ndak paham. Saya ndak nyangka.

    Lokasi studio minjem kamar kost kosong tetangga.

    Rating saya untuk produk Polytron MUZE Bluetooth Headset ini adalah 4 out of 5! Penasaran kenapa saya kasih review segitu? Silaken tonton aja videonya.

  • A7S Mark II Hands-On

    Jumat 16 Oktober beberapa hari yang lalu, saya diberi kesempatan oleh Sony Indonesia untuk menghadiri launch event  kamera mirrorless terbaru dari Sony yang ditujukan untuk kalangan videografer professional. Sebagai happy user of Sony a7S generasi pertama, sudah pasti saya girang sekali.

    Screen Shot 2015-10-21 at 1.15.06 AM

    Berlokasi di sebuah bar di Marina Bay Sands, Singapore, saya dan beberapa videografer/fotografer lain dari Indonesia seperti Benny Kadar, Upie Guava, Enche Tjin, Benny Lim, Yuliandi dan Glen Prasetya menjajal kemampuan dari generasi ke-2 Sony a7S untuk merekam video dan foto dalam situasi low light. Pangaea bar, lokasi event yang cenderung redup, pas banget untuk menguji kemampuan a7S II di ISO tinggi. 

    Dan inilah video hands-on review ketika kurang lebih setengah jam diberi kesempatan menguji kamera yang diberi julukan “Sesitivity Supremacy” ini.

    Continue reading

  • SAMSUNG NX1 Quick Test

    Hari Senin kemarin sewaktu pulang kampung, saya berkesempatan icip-icip kamera mirrorless SAMSUNG NX1 di Jogja. Saya dipinjami kamera APS-C dengan kemampuan on-board 4K video recording pada frame rate 24FPS ini dari salah satu teman admin komunitas DSLR Cinema Indonesia yang tinggal di Jogja. Jadi ini bukan review berbayar ya. Hehehe…

    Mungil! Tapi feel DSLR-nya masih dapet.Sarapan lontong opor dulu di Alun-Alun Kidul sebelum menjajal NX1

    Hanya ada 4 tes yang saya lakukan karena keterbatasan waktu dan saya juga harus bergantian dengan rekan member DCI lain yang ingin mencoba. Semoga lain kali saya bisa memegang kamera ini lebih lama agar bisa melakukan in-depth review.  Tes yang saya lakukan adalah:

    • Detail 4K
    • Rolling Shutter
    • Moire
    • Continuous Auto Focus

    Untuk menyaksikan hasil tes dalam kualitas 4K, klik icon settings di pojok kanan bawah, ubah quality menjadi 2160p (4K). Jangan lupa tonton di full screen mode ya.

    Beberapa catatan singkat setelah memegang kamera ini kurang dari 2 jam:

    Pros

    • Batere awet. Selama 2 jam pemakaian untuk video batere masih sisa sekitar 40%.
    • Layar SUPER AMOLED-nya jernih sekali, dan tidak terlalu reflektif. Shooting di luar ruangan dengan cahaya matahari persis di belakang kamera, masih nyaman.
    • Grip enak. Feel DSLR-nya dapet banget. Asik untuk keperluan fotografi.
    • Detail gambar 4K luar biasa! Ternyata codec H.265 ini memang benar efisien. Kecil ukuran file-nya, tapi kualitas gambar keren banget.
    • Tidak menemukan Moire.
    • Focus Peaking (bisa diubah warnanya).

    Cons

    • Zebra Function tidak ada pilihan mengatur IRE.
    • Tidak bisa mengatur segala sesuatunya di Picture Wizard seperti contrast, saturation dan lain-lain dengan  WYSIWYG. 
    • Tidak ada tombol dedicated Focus Assist.
    • Tidak ada Log Profile (flat picture style).
    • Codec H.265 belum bisa diolah natively di editing software. Harus convert ke format lain. Saya memakai Wondershare dan convert ke ProRes HQ.
    • Tombol perekaman video terlalu kecil dan letaknya terlalu berdekatan dengan tombol Exposure Compensation. Gampang bikin salah pencet. IMG_7839

    Semoga beberapa kekurangan dari segi fitur di atas bisa teratasi di next firmware update.

    Tips:
    Karena tidak ada Log Profile, ini adjustment yang saya lakukan untuk mendapatkan gambar yang lebih flat agar mudah untuk dilakukan color correction. 

    Untuk spesifikasi lengkap mengenai kamera ini, silakan cek di laman web ini.

  • Benro S8 (Flat Base) Fluid Head – CounterBalance Test

    Akhirnya, (flat base) video fluid head incaran saya ini sudah mulai dijual di toko-toko dan online seller di Indonesia walaupun sudah dirilis produknya sejak April 2014 lalu di NAB 2014.

    Yang membuat saya sangat tertarik dengan fluid head ini, dengan harga jauh di bawah Manfrotto 504HD, fluid head ini ternyata menawarkan kemampuan counterbalance yang lebih optimal dari pada 504HD. Dengan maximum load 8 kg, inilah fluid head yang cocok dengan pekerjaan saya di video & filmmaking. 

    Silaken tonton kemampuan counterbalance dari fluid head ini yang saya tumpangi beban kamera plus asesorisnya seberat 6 kg pada video di bawah.

    Beberapa hal penting lain yang saya suka dari produk ini adalah:

    1. Plate yang kompatibel dengan Manfrotto 501PL/501PLONG.
    2. Pan Drag Control (type S6 belum ada fitur ini)

    Ada yang sudah mencoba fluid head ini dan ingin berkomentar? Monggo…

  • Asiknya Ber-TimeLapse Dengan Lumix DMC-GF6

    Akhirnya punya kamera DSLM alias Digital Single Lens Mirroless atau yang lebih dikenal dengan kamera mirrorless. Kamera mirrorless yang pertama saya punya ini adalah merk Panasonic type Lumix DMC-GF6 dengan lensa kit-nya 14-42mm f/3.5-5.6.

    Panasonic Lumix DMC-GF6

    Kenapa saya memilih kamera mirrorless yang satu ini? Alasan utamanya adalah karena kamera ini menggunakan lens mount type Micro Four Third yang lebih banyak stok lensanya di pasaran dibandingkan DSLM lain. Jadi, banyak  pilihan mau pakai lensa apa saja. Bisa pakai lensanya Olympus, Sigma, SLR Magic, dan merk-merk lain. 

    Eh sebentar-sebentar… Apa sih yang membedakan kamera DSLM dengan DSLR? Secara umum perbedaan kamera mirrorless dengan kamera DSLR hanyalah pada cara menampilkan gambar ke jendela bidik  (viewfinder).  Pada kamera DSLR, terdapat cermin (mirror) untuk memantulkan gambar yang melewati lensa menuju jendela bidik optik. Sedangkan pada kamera mirrorless, cermin tersebut ditiadakan dan gambar langsung ditampilkan dari sensor ke  electronic viewfinder atau LCD.  Dengan peniadaan cermin tadi, fisik kamera jadi lebih kecil dari DSLR, hanya sedikit lebih besar dari point-and-shoot camera.

    Source: http://www.evotog.com/?p=84

    Fisiknya yang kecil ini, jadi alasan ke-2 saya menyukai kamera ini. Saya pun jadi hobi bawa-bawa kamera ini di tas cangklong eh, selempang saya. Karena saya suka banget bikin timelapse, tiap nemu objek atau awan bagus saya tinggal keluarin kamera dari tas dan pasang di tripod kecil nggak pakai lama. Di bawah ini adalah video timelapse yang saya bikin di seputaran Jakarta.

    Bikin timelapse dengan Lumix GF-6 ini gampang banget, ini alasan ke-3 saya suka banget kamera ini. Tinggal masuk ke Menu > Stop Motion Animation > Auto Shooting (On), lalu Set Shooting Interval sesuai dengan kondisi obyek yang mau dijadiin timelapse. Untuk awan rendah yang bergerak cepat, biasanya saya pakai interval 3-5 second. Untuk awan tinggi, pakai 8-10 second. Lalu tinggal pencet start dan kita tunggu sampai jumlah frame yang kita perlukan. Oh ya, kamera ini LCD-nya touch screen lho! Jumlah frame tergantung dari berapa lama durasi yang kan kita buat. Untuk durasi 1 detik, kita membutuhkan jumlah frame sebanyak 25 (jika 25fps), atau 24 (jika 24fps). Setelah stop shooting timelapse, kita bisa langsung ‘menjahit’ foto-foto timelapse tadi jadi video langsung di dalam kamera. Keren kan?


    Video timelapse bisa langsung diproses di kamera

    Kalau mau belajar lebih jauh cara membuat time-lapse, silakan ngesot ke http://www.enriquepacheco.com/10-tips-for-shooting-time-lapse atau ke http://www.learntimelapse.com/time-lapse-photography-how-to-guide/how-to-select-a-time-lapse-interval/

    Tiltable  3,0″  touch-sensitive LCD screen yang bisa diputar 180 derajat. Ini adalah alasan ke-4 saya jatuh cinta pada kamera ini. Ambil gambar low angle nggak perlu bungkukin badan atau rebahan. Ambil gambar high angle juga nggak perlu jinjit-jinjit. Maklum saya cebol hehehe… Dan yang paling penting, bisa buat SELFIE! *halah*

    Tiltable 3" LCD Screen Tiltable 3″ LCD Screen

    Wi-Fi! Alasan ke-5 saya menikmati menggunakan kamera ini. Dengan mengunduh Panasonic Image App (gratis) dari Play Store atau App Store, saya bisa pairing GF6 saya ke Android atau iOS device dengan mudah menggunakan Wi-Fi.  Dengan Image App ini, selain saya bisa memindahkan data-data foto atau video dari kamera ke handset, saya juga bisa mengatur semua setting di kamera  dan mengontrol untuk perekaman baik foto maupun video dengan mudah. Dan jika handset kita mendukung fitur NFC, pairing kedua gadget ini akan lebih mudah karena nggak perlu setting manual ribet sampai harus memasukan password. Cukup dengan menempelkan keduanya. Kebayang nggak, dengan fitur konektifitas Wi-Fi ini kita bisa mengambil extreme close up rongga mulut buaya darat dari dekat, namun kita nggak perlu dekat-dekat dengan kamera? Ya kaliii…

    IMG_4472Pairing Android device dengan GF6 menggunakan Wi-fi

    Lalu, kualitas gambarnya gimana? Kamera mirrorless menggunakan ukuran sensor sebesar kamera DSLR sehingga kualitas gambarnya setara. Khusus untuk Lumix GF6 ini, menggunakan four thirds CMOS sensor dengan resolusi gambar 16MP. Kamera ini juga mampu merekam video 1080i AVCHD pada 50fps.


    Lumix DMC-GF6 In Action

    Sebetulnya masih banyak lagi fitur di dalam kamera ini yang saya sukai seperti built-in HDR dan super-high drive mode untuk continuous shooting. Tapi bakal panjang banget kalau saya tulis semua di sini. Kesimpulannya, setelah memakai kamera mirrorless dengan harga yang tidak lebih mahal dari DSLR ini selama dua bulan, saya puas sekali. Jika ada budget lebih, saya ingin upgrade ke Lumix GX7 atau GM1 hihihi… Dan wajib melengkapi koleksi lensa MFT tentunya.

    Review lain tentang kamera keren ini bisa dibaca di blognya Simbok Venus dan Ariev Rahman.

    Jadi, kamu tertarik memiliki kamera mirrorless? Atau sudah punya? :D

  • BMPCC, BMCC 2.5K & Atomos Ninja 2 Quick Test

    Mencoba membandingkan head-to-head antara Blackmagic Cinema Camera 2.5K (EF mount) dengan Blackmagic Pocket Cinema Camera (Micro Four Third) dalam ProRes mode 1080p 25fps. Perbandingan meliputi detail & ketajaman, dynamic range, warna, crop factor. Sebetulnya belum total ngebandinginnya karena keterbatasan waktu & hujan.

    Hasil test menunjukkan bahwa warna dari BMPCC lebih hijau dari BMCC 2.5K (dengan WB setting yang sama). Dan BMPCC sedikit kalah di resolusi (terlihat di detail test). Namun kedua kamera ini walaupun selisih harganya jauh berbeda ($1,995 vs ‎$995 body only), masih layak kok untuk disandingkan dalam satu produksi dengan release format full HD. Atau lebih tepatnya BMPCC dipergunakan sebagai B-Roll.

    Lensa yang dipergunakan untuk test adalah Sigma 18-35mm f/1.8. Dengan pengaturan focal length yang sama dan posisi kamera yang sama terhadap obyek, terlihat tidak ada perbedaan yang signifikan antar crop factor dari kedua kamera ini.  Crop factor BMCC 2.5 adalah 2.39x, sedangkan BMPCC memiliki crop factor  2.88x. Oh ya, karena BMPCC ini MFT lens mount, saya menggunakan adapter EF to MFT.

    Di bagian akhir video juga saya coba membandingkan hasil internal recording (ProRes) dari BMPCC dengan external recording menggunakan Atomos Ninja 2 (ProRes). Merekam menggunakan Atomos Ninja 2 dari clean HDMI out BMPCC adalah solusi atas keterbatasan kapasitas merekam dari BMPCC yang menggunakan media SDHC.


    Terimakasih buat Adyth @magruderjazz yang udah mi njemin BMPCC-nya. @rudysatria yang udah minjemin BMCC 2.5K-nya. Dan Kang Indra @ZanettaRental yang udah minjemin Sigma 18-35mm f/1.8 dan Atomos Ninja 2-nya.

  • Test Shots Trapezist Portable Mini Jib (Hore Mainan Baru!)

    Akhirnya punya mainan baruuuu! Dari dulu kepengin punya Porta Jib sendiri tapi selalu kebayang bakal repot  banget bawa-bawa equipment yang berat ini sendirian ke lokasi syuting. Belum lagi nanti naruhnya di kamar mau di mana. Taruh di lemari ga bakal muat. :)) *maklum anak kost*  Jadinya ya setiap kali shooting, lebih memilih menyewa. Diantar ke lokasi oleh rental alat dan included guard-nya yang bakal set-up dan mindah-mindahin equipment yang berat ini. Tinggal operate atau nge-direct DOP-nya. BERES!

    Eh tapi… Setelah ga sengaja nemu review ini di Youtube, keinginan itu kembali bergejolak *halah*. Bagaimana mungkin Porta Jib yang walaupun pakai embel-embel “porta” tapi tetep harus diangkat oleh minimal 2 orang kalau mau pindah set, ternyata ada yang bobotnya hanya 1,7kg (lengannya doang) dan bisa diringkas panjangnya cuma 60cm?! WHOAA! Iya ringan banget.  Walaupun enteng, Porta Jib ini mampu menahan beban sampai 3,5kg. Di websitenya sendiri ditulis kalau Porta Jib ini didesain khusus untuk videographer/cinematographer yang hobby travelling.

    Trus akhirnya iseng nyari-nyari yang jual di Indonesia. Eh ternyata dijual di Bhinneka.com dengan harga yang ga terlalu mahal. Ya udah beli deh setelah mantep ngelihat beberapa review lain di Youtube. :P

    Ini contoh test shots yang saya ambil di gang depan kost. :))

    Trus, bisa seberapa tinggi Porta Jib ini dari permukaan tanah? Tergantung Tripod yang dipakai. Pakai Libec 650DV bisa sampai 2,5 meter.

    AAAAK! GA SABAR JALAN-JALAN BAWA INI! GA SABAR JUGA NUNGGU VIDEO PROJECT SELANJUTNYA! #kode