• Valentine’s Day Short Films

    Selamat hari kasih sayang!

    Ada dua film pendek yang saya shoot untuk menyambut valentine’s day kali ini . Film pertama berjudul “Antara Dua Dunia (A World Between)”, dan film kedua berjudul “Job Interview”.

    “Antara Dua Dunia (A World Between)” saya produksi bersama  teman-teman Last Day Production (LDP). Di sini saya bertugas menjadi penata sinematografi yang istilah kerennya adalah Director of Photography. Tapi karena naskah baru diterima sehari sebelum syuting dan tidak ada recce, semua shot saya desain langsung di set sebelum syuting dimulai (tidak ada shot list). Persis sebelum syuting dimulai, saya langsung mendesain di mana sudut penempatan kamera, pergerakan kamera, frame size, lampu, dan blocking aktor/aktris agar sesuai dengan konsep story telling. Proses syuting selama 2 hari yang disponsori oleh hujan dan mengantuk karena syuting dari pagi ketemu pagi.

    Di produksi ini saya hanya dibantu oleh 1 orang assistant camera dan 1 orang sound recordist. Tanpa kru yang lain-lain.  Film ini saya syut menggunakan Sony A7s dan lensa-lensa prime Canon L series dengan focal length 24mm, 35mm, 50mm, dan 100mm (macro).

    Foto-foto Behind The Scenes

    “Job Interview” saya produksi bersama teman-teman SOS Project. Di sini saya bertugas sebagai sinematografer, sutradara, sekaligus editor.  Karena naskah sudah saya terima beberapa hari sebelum syuting, saya masih sempat untuk membuat shot list agar proses syutingnya lebih rapi dan efektif.

    Screenshot shot list yang saya buat.

    Khusus untuk film “Job Interview” ini, selain menggunakan kamera Sony A7s, saya memakai external recorder Atomos Shogun untuk mendapatkan resolusi gambar 4K(3840 x 2160). Saya memutuskan memakai alat ini karena banyak dialog dalam film ini dan saya tidak ingin aktor & aktris  take berkali-kali demi mendapatkan beberapa frame size untuk dialog yang sama. Karena output yang saya pakai adalah 1080p,  maka saya bisa crop dari resolusi 4K menjadi beberapa frame size namun dengan kualitas gambar yang tetap tajam (axial cutting).

    Lensa-lensa yang saya pakai dalam  video ini adalah full set Canon CN-E 35mm Cine Prime (14mm, 24mm, 35mm, 50mm, 85mm, 135mm).

    Foto-foto Behind The Scenes

    Komentar yaaa… :D

  • Benro S8 (Flat Base) Fluid Head – CounterBalance Test

    Akhirnya, (flat base) video fluid head incaran saya ini sudah mulai dijual di toko-toko dan online seller di Indonesia walaupun sudah dirilis produknya sejak April 2014 lalu di NAB 2014.

    Yang membuat saya sangat tertarik dengan fluid head ini, dengan harga jauh di bawah Manfrotto 504HD, fluid head ini ternyata menawarkan kemampuan counterbalance yang lebih optimal dari pada 504HD. Dengan maximum load 8 kg, inilah fluid head yang cocok dengan pekerjaan saya di video & filmmaking. 

    Silaken tonton kemampuan counterbalance dari fluid head ini yang saya tumpangi beban kamera plus asesorisnya seberat 6 kg pada video di bawah.

    Beberapa hal penting lain yang saya suka dari produk ini adalah:

    1. Plate yang kompatibel dengan Manfrotto 501PL/501PLONG.
    2. Pan Drag Control (type S6 belum ada fitur ini)

    Ada yang sudah mencoba fluid head ini dan ingin berkomentar? Monggo…

  • 6 Alasan Konyol Unfriend di Social Media – Selamat hari Blogger Nasional!

    Apa social media platform yang sering kamu pakai? Path? Twitter? Facebook?  Tumblr? Apa sih manfaat memakai social media bagi kamu selain sebagai media untuk tetap bisa berinteraksi dengan teman-teman kamu yang jauh jaraknya? Lalu, apakah kamu pernah saling unfriend bahkan sampai ribut dengan teman kamu karena sesuatu hal di social media seperti dalam video di bawah ini?

    Udah nonton videonya? Jadi kamu masih mau berteman dengan saya kan meskipun saya aneh (di social media)? Aslinya sih saya keren kok, nggak aneh. Ngok.

    Video ini saya buat bersama team SOS Project  untuk Indomie. Sekilas proses syutingnya bisa ditonton di video di bawah ini.

    Foto-foto behind the scenes

    Oh ya, hari ini tanggal 27 Oktober adalah Hari Blogger Nasional. Dan weblog alias blog adalah salah satu bentuk Social Media lho.

    SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL!

     

     

     

  • [VIDEO PROJECT] SOSHORT PRODUKSI KE-4 & 5 DENGAN SONY A7S

    Setelah memulai tayang perdana di Youtube sejak 7 bulan yang lalu, akhirnya #SOShort memasuki produksi ke-5.  Webseries yang ndak jelas maunya apa dan lucunya di mana ini, sampai saat blogpost ini ditulis sudah rilis sebanyak 27 episode.

    Di produksi ke-4 & 5, saya memutuskan menjajal kemampuan kamera mirrorless bersensor full frame terbaru dari Sony untuk digunakan memproduksi webseries. Yaitu Sony A7s.

    My A7s

    Langsung ditonton saja yuk salah satu episodenya yang disyut menggunakan kamera ini. Tonton di kualitas HD ya!

    Dua alasan utama kenapa saya memutuskan memproduksi SOShort dengan A7s: Continue reading

  • Jadikan Ramadan Istimewa Untuk Semua

    Sebuah short movie dengan treatment docudrama tentang seorang Ibu yang berusaha membuat Ramadan lebih istimewa untuk keluarganya. Yang gampang nangis, sediain tissue ya.

    Directed by: GoenRock
    DOP: Adrian Soegiono, GoenRock
    Music Composer: Yaser ‘Ace’
    Production House: SOS Project
    Post Pro: Subtube Post
    Agency: FCB Jakarta
    Client: KRAFT

    Continue reading

  • #SOShort

    Apa itu #SOShort? Ini adalah video webseries sketsa komedi bikinan saya dan teman-teman di @SosiShot.  Apa yang membedakan dengan  SosiShot sebelumnya? Di #SOShort, durasinya lebih pendek (di bawah 1 menit) dan cerita yang diangkat nggak melulu soal social media. Tapi, tetap memakai influencer-influencer sebagai talent-nya.

    Rencananya episode perdana #SOShort akan tayang tanggal 17 Maret 2014 pukul 13:31 WIB lewat Twitter @SosiShot. Ini dia teasernya!

    Continue reading

  • Asiknya Ber-TimeLapse Dengan Lumix DMC-GF6

    Akhirnya punya kamera DSLM alias Digital Single Lens Mirroless atau yang lebih dikenal dengan kamera mirrorless. Kamera mirrorless yang pertama saya punya ini adalah merk Panasonic type Lumix DMC-GF6 dengan lensa kit-nya 14-42mm f/3.5-5.6.

    Panasonic Lumix DMC-GF6

    Kenapa saya memilih kamera mirrorless yang satu ini? Alasan utamanya adalah karena kamera ini menggunakan lens mount type Micro Four Third yang lebih banyak stok lensanya di pasaran dibandingkan DSLM lain. Jadi, banyak  pilihan mau pakai lensa apa saja. Bisa pakai lensanya Olympus, Sigma, SLR Magic, dan merk-merk lain. 

    Eh sebentar-sebentar… Apa sih yang membedakan kamera DSLM dengan DSLR? Secara umum perbedaan kamera mirrorless dengan kamera DSLR hanyalah pada cara menampilkan gambar ke jendela bidik  (viewfinder).  Pada kamera DSLR, terdapat cermin (mirror) untuk memantulkan gambar yang melewati lensa menuju jendela bidik optik. Sedangkan pada kamera mirrorless, cermin tersebut ditiadakan dan gambar langsung ditampilkan dari sensor ke  electronic viewfinder atau LCD.  Dengan peniadaan cermin tadi, fisik kamera jadi lebih kecil dari DSLR, hanya sedikit lebih besar dari point-and-shoot camera.

    Source: http://www.evotog.com/?p=84

    Fisiknya yang kecil ini, jadi alasan ke-2 saya menyukai kamera ini. Saya pun jadi hobi bawa-bawa kamera ini di tas cangklong eh, selempang saya. Karena saya suka banget bikin timelapse, tiap nemu objek atau awan bagus saya tinggal keluarin kamera dari tas dan pasang di tripod kecil nggak pakai lama. Di bawah ini adalah video timelapse yang saya bikin di seputaran Jakarta.

    Bikin timelapse dengan Lumix GF-6 ini gampang banget, ini alasan ke-3 saya suka banget kamera ini. Tinggal masuk ke Menu > Stop Motion Animation > Auto Shooting (On), lalu Set Shooting Interval sesuai dengan kondisi obyek yang mau dijadiin timelapse. Untuk awan rendah yang bergerak cepat, biasanya saya pakai interval 3-5 second. Untuk awan tinggi, pakai 8-10 second. Lalu tinggal pencet start dan kita tunggu sampai jumlah frame yang kita perlukan. Oh ya, kamera ini LCD-nya touch screen lho! Jumlah frame tergantung dari berapa lama durasi yang kan kita buat. Untuk durasi 1 detik, kita membutuhkan jumlah frame sebanyak 25 (jika 25fps), atau 24 (jika 24fps). Setelah stop shooting timelapse, kita bisa langsung ‘menjahit’ foto-foto timelapse tadi jadi video langsung di dalam kamera. Keren kan?


    Video timelapse bisa langsung diproses di kamera

    Kalau mau belajar lebih jauh cara membuat time-lapse, silakan ngesot ke http://www.enriquepacheco.com/10-tips-for-shooting-time-lapse atau ke http://www.learntimelapse.com/time-lapse-photography-how-to-guide/how-to-select-a-time-lapse-interval/

    Tiltable  3,0″  touch-sensitive LCD screen yang bisa diputar 180 derajat. Ini adalah alasan ke-4 saya jatuh cinta pada kamera ini. Ambil gambar low angle nggak perlu bungkukin badan atau rebahan. Ambil gambar high angle juga nggak perlu jinjit-jinjit. Maklum saya cebol hehehe… Dan yang paling penting, bisa buat SELFIE! *halah*

    Tiltable 3" LCD Screen Tiltable 3″ LCD Screen

    Wi-Fi! Alasan ke-5 saya menikmati menggunakan kamera ini. Dengan mengunduh Panasonic Image App (gratis) dari Play Store atau App Store, saya bisa pairing GF6 saya ke Android atau iOS device dengan mudah menggunakan Wi-Fi.  Dengan Image App ini, selain saya bisa memindahkan data-data foto atau video dari kamera ke handset, saya juga bisa mengatur semua setting di kamera  dan mengontrol untuk perekaman baik foto maupun video dengan mudah. Dan jika handset kita mendukung fitur NFC, pairing kedua gadget ini akan lebih mudah karena nggak perlu setting manual ribet sampai harus memasukan password. Cukup dengan menempelkan keduanya. Kebayang nggak, dengan fitur konektifitas Wi-Fi ini kita bisa mengambil extreme close up rongga mulut buaya darat dari dekat, namun kita nggak perlu dekat-dekat dengan kamera? Ya kaliii…

    IMG_4472Pairing Android device dengan GF6 menggunakan Wi-fi

    Lalu, kualitas gambarnya gimana? Kamera mirrorless menggunakan ukuran sensor sebesar kamera DSLR sehingga kualitas gambarnya setara. Khusus untuk Lumix GF6 ini, menggunakan four thirds CMOS sensor dengan resolusi gambar 16MP. Kamera ini juga mampu merekam video 1080i AVCHD pada 50fps.


    Lumix DMC-GF6 In Action

    Sebetulnya masih banyak lagi fitur di dalam kamera ini yang saya sukai seperti built-in HDR dan super-high drive mode untuk continuous shooting. Tapi bakal panjang banget kalau saya tulis semua di sini. Kesimpulannya, setelah memakai kamera mirrorless dengan harga yang tidak lebih mahal dari DSLR ini selama dua bulan, saya puas sekali. Jika ada budget lebih, saya ingin upgrade ke Lumix GX7 atau GM1 hihihi… Dan wajib melengkapi koleksi lensa MFT tentunya.

    Review lain tentang kamera keren ini bisa dibaca di blognya Simbok Venus dan Ariev Rahman.

    Jadi, kamu tertarik memiliki kamera mirrorless? Atau sudah punya? :D

  • BMPCC, BMCC 2.5K & Atomos Ninja 2 Quick Test

    Mencoba membandingkan head-to-head antara Blackmagic Cinema Camera 2.5K (EF mount) dengan Blackmagic Pocket Cinema Camera (Micro Four Third) dalam ProRes mode 1080p 25fps. Perbandingan meliputi detail & ketajaman, dynamic range, warna, crop factor. Sebetulnya belum total ngebandinginnya karena keterbatasan waktu & hujan.

    Hasil test menunjukkan bahwa warna dari BMPCC lebih hijau dari BMCC 2.5K (dengan WB setting yang sama). Dan BMPCC sedikit kalah di resolusi (terlihat di detail test). Namun kedua kamera ini walaupun selisih harganya jauh berbeda ($1,995 vs ‎$995 body only), masih layak kok untuk disandingkan dalam satu produksi dengan release format full HD. Atau lebih tepatnya BMPCC dipergunakan sebagai B-Roll.

    Lensa yang dipergunakan untuk test adalah Sigma 18-35mm f/1.8. Dengan pengaturan focal length yang sama dan posisi kamera yang sama terhadap obyek, terlihat tidak ada perbedaan yang signifikan antar crop factor dari kedua kamera ini.  Crop factor BMCC 2.5 adalah 2.39x, sedangkan BMPCC memiliki crop factor  2.88x. Oh ya, karena BMPCC ini MFT lens mount, saya menggunakan adapter EF to MFT.

    Di bagian akhir video juga saya coba membandingkan hasil internal recording (ProRes) dari BMPCC dengan external recording menggunakan Atomos Ninja 2 (ProRes). Merekam menggunakan Atomos Ninja 2 dari clean HDMI out BMPCC adalah solusi atas keterbatasan kapasitas merekam dari BMPCC yang menggunakan media SDHC.


    Terimakasih buat Adyth @magruderjazz yang udah mi njemin BMPCC-nya. @rudysatria yang udah minjemin BMCC 2.5K-nya. Dan Kang Indra @ZanettaRental yang udah minjemin Sigma 18-35mm f/1.8 dan Atomos Ninja 2-nya.

  • A Day With Lenovo Yoga Tablet

    Directed by: @goenrock
    DP: @rudysatria
    Editor: @karindra
    Color grading: @rudysatria
    Music: Yasser ‘Ace’
    Production House: Motion Pilot

    Shot on Blackmagic Cinema Camera 2.5K (ProRes Mode)