Saya dan BF

19 Juni kemaren, saya berkesempatan untuk menghadiri undangan diskusi BF di Komunitas Salihara, Pejaten, Jakarta Selatan. Weits, jangan salah sangka dulu! BF disini bukanlah Blue Film sejenis Vivid, NA, JAV dll. Ini adalah forum Bicara Film.  BF adalah sebuah sebuah komunitas yang digagas oleh Iman Brotoseno, seorang Sutradara yang juga Chairman Pesta Blogger 2009 dengan tujuan untuk mewadahi para blogger, pengguna layanan social media serta jejaring social yang ingin berbicara tentang dunia film baik secara online maupun offline. Mau tahu lebih banyak tentang BF? Langsung aja meluncur kesini. Diskusi offline BF episode yang pertama ini, mengambil topik Film Iklan. Ada empat orang pembicara yang hadir yaitu Arief Budiman (Ad. Agency Petak Umpet), Iman Brotoseno (Film Director), Paquita Widjaya (Produser) dan Goenawan Mohamad (Budayawan).

Arief Budiman mengawali berbicara mengenai bagaimana memetik ide kreatif untuk kemudian dikembangkan menjadi konsep iklan berbentuk script dan storyboard dan apa saja strateginya sebagai alat pemasaran. Menurutnya, orang kreatif itu memetik ide dengan dengan melihat apa yang orang lain ndak bisa lihat. Bahasa linggisnya ‘To see the unseen’. Iklan yang baik adalah iklan yang tidak terlihat sebagai iklan. Setiap brand, berkomunikasi dengan ‘bahasanya’ masing-masing. Untuk sebuah produk yang sudah berada di level above the line, TVC itu sudah bertranformasi menjadi PSA sehingga tidak terkesan menjual produk sama sekali. Arief juga mengungkapkan, hasil survey dari berbagai sumber menunjukkan bahwa kreatifitas iklan di Indonesia itu justru mencapai level maksimal pada produk rokok. Dan saya yakin Sampeyan sudah tahu, ada aturan iklan rokok secara tegas dilarang memperlihatkan produk rokok dan asap rokok. Ini menunjukkan bahwa semakin dibatasi ruang gerak orang kreatif, maka kreatifitas itu semakin luar biasa berkembangnya. Produk rokok seperti AMild atau Gudang Garam memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam kreatifitas produksi film iklan.

Pada sesi berikutnya, Iman Brotoseno berbicara bahwa setelah mendapatken creative brief dari Agency, dia akan menemui produser dan mengumpulken team produksi untuk kemudian memulai tahapan awal yaitu Director Treatment dan Shooting Board. Dalam Director Treatment, sutradara akan menentukan talent yang akan dipakai, apa format produksinya, warna (grade), pencahayaan, wardrobe, desain set & props, soundtrack sampai menentukan style dari CG atau Visual FX yang akan dipakai pada proses post production. Storyboard yang sudah didapatken dari agency, akan dikembangkan oleh sutradara menjadi sebuah shooting board. Shooting board adalah Storyboard yang sudah lengkap shot type, scene description dan catatan lain dari sutradara. Ditegaskan oleh Iman, produksi sebuah iklan bukanlah sebuah eksekusi dadakan, semuanya harus berdasarkan pada persiapan yang matang.

Paquita Widjaja selanjutnya berbicara bahwa produser adalah support system dari director. Produser adalah tempat berunding dan berkompensasi. Dia harus bisa memanage agar klien bahagia, agency bahagia tapi PH juga tidak tekor. Dia juga menjelaskan kenapa film iklan itu begitu mahal bahkan ada film iklan yang budget produksinya bisa untuk membuat 3 film layar lebar, itu karena kru yang terlibat sangat banyak dan prosesnya mulai dari preliminary plan sampe post production yang begitu mendetail.Pembicara selanjutnya yaitu budayawan GM menepis anggapan bahwa pekerja adalah pelacur karena pekerja iklan itu bukan hanya melayani satu orang(client) tapi juga sekaligus melayani orang banyak(audience). Harus disadari pula bahwa setiap pekerjaan kreatif itu pasti ada sisi negatifnya yang disorot publik. Film iklan adalah bagian dari kehidupan modern, yang proses produksinya memberi manfaat bagi banyak orang, namun menurut GM, sebaiknya agency dan rumah produksi juga memikirkan kompensasi terhadap meningkatnya ketamakan masyarakat.Sampeyan tertarik untuk menjadi Penggemar BF? Monggo meluncur saja kesini dan tunggu saja undangan diskusi offlinenya disono.

Film iklan saya? Errrr… belum pernah bikin :D Tapi kalau sekedar PSA & TVC sih saya pernah bikin buat TV lokal Jogja. Dibawah ini salah satu contohnya.

This video was embedded using the YouTuber plugin by Roy Tanck. Adobe Flash Player is required to view the video.

*foto nyolong dari sini*

Berbagi:
  • Facebook
  • Twitter
  • del.icio.us
  • E-mail this story to a friend!
  • RSS

71 yang ikut ngoceh di “Saya dan BF”

Ocehan lain yang ramai dikunjungi:
  • Karikatur Narsis Nungguin Sahur (145)
  • Cowboy From Hell (125)
  • “Inem Pelayan Metal” Blogmu, Ekspresimu! (118)
  • Si Peri Kepik itu… (110)
  • Saya dan Superhero (110)
  • Silahken ngoceh disini

    :) :( :d :"> :(( :d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

    CommentLuv Enabled

    Monggo kalau mau ikut ngoceh. Ocehan terbaik akan mendapatkan kecupan terhangat dari piaraan si empunya blog ini. Pajak ditanggung pemenang.
    yang mbaureksa


    Anggun Adi a.k.a GoenRock®

    ■ Videomaker
    ■ (Motion) Graphic Artist


    Twitter
    saya ada juga disini
    ayo nongkrong
    jejaring sosial
    GoenRock on Facebook