Travel Video Dengan Kamera Saku RX100 IV

Ingin lebih serius di travel videography, tapi malas jika harus membawa kamera berukuran besar yang bikin berat barang bawaan? Atau sudah punya kamera mirrorless dan berencana membeli kamera backup berukuran ringkas dengan kualitas gambar yang tidak jauh berbeda dengan kamera utama?

Akan saya jelaskan kenapa RX100 IV ini cocok banget untuk travel videography dan sebagai second cam. Namun sebelum membaca review saya, silakan tonton video terbaru yang saya syut dengan RX100 IV di 100fps sebagai teaser. 😀
 

Premium Compact Camera
Walau berukuran mungil, kamera saku ini bukan kamera yang bisa disepelekan kemampuannya. Di dalam RX100 IV banyak ditanam fitur-fitur profesional untuk video seperti yang ada di seri ILCE  (A7II, A7s, A7rII, A7sII).

Masuk-Kantong
Ukuran yang mungil cocok banget buat traveling
RX100IV
Bikin travel video yang lebih serius? Pasang ke handheld electronic gimbal seperti ini pun tetep enteng. Nggak bikin cepet pegel.
Di-atas-A7s
Tempel di atas A7s sebagai second cam memakai ball head.


Kualitas Video
Resolusi  yang  mampu direkam kamera mungil bersensor 1″ ini adalah 4K (3840 x 2160p) pada framerate 25fps (dengan batasan durasi 5 menit per klip) dan Full HD pada framerate 25fps, 50fps dan 100fps full pixel readout tanpa pixel binning. Dengan demikian, kualitas gambar yang dihasilkan lebih detail, tanpa ada moire dan aliasing.

Hasil perekaman video pada resolusi 4K (set Quality di 2160p)

Shooting di resolusi 4K ini berguna banget jika kita bakal publish di resolusi full HD, karena sekali syut bisa di-crop pada saat editing menjadi beberapa frame size tanpa kehilangan ketajaman.

4K-Screen-Grab
Sekali syut resolusi 4K, bisa di-crop ke resolusi Full HD menjadi beberapa frame

Codec yang dipergunakan untuk mendapatkan kualitas gambar terbaik, adalah XAVC-S. Dengan bitrate 100mb/s pada resolusi 4K, memory card yang dipergunakan harus tipe SDXC 64GB U3 Class 10. Saya sangat menyukai format file ini, karena masih enteng untuk diolah di MacBook Air dan fleksibilitasnya yang diberikan untuk color grading karena minim shadow noise dan artifact.

ISO performance RX100 IV ini menurut saya tergolong bagus untuk kamera bersensor 1″. Tapi meskipun native ISO-nya bisa sampai 12800, saya tidak menyarankan untuk shoot di atas ISO4000. Karena di atas itu, shadow noise-nya cukup mengganggu tekstur gambar.

Fitur Video Profesional
Fitur-fitur yang membuat kamera saku ini sangat videocentric adalah Zebra, Focus Peaking, (Electronic) ND Filter, Flat Profile S-Log2, dan HFR (High Frame Rate).

ZEBRA
Zebra berfungsi untuk menjaga detail highlight pada gambar dengan menandai bagian yang overexposed (zebra stripes).
Focus Peaking berfungsi untuk memberi highlight pada bagian yang fokus. Saat berguna saat kita melakukan manual focusing.Focus Peaking berfungsi untuk memberi highlight pada bagian yang fokus (berwarna merah). Sangat berguna saat kita melakukan manual focusing.

ND filter, yang terbiasa syuting dengan mirrorless atau DSLR pasti sangat familiar. Filter ini berguna untuk mendapatkan shutter speed ideal saat kondisi pencahayaan terang benderang (normal motion blur). Jangan khawatir, walau tidak ada filter thread di bagian depan lensa, kamera ini dilengkapi dengan electronic ND Filter kok. Dengan kompensasi sebanyak 3 stops exposure.

S-Log2, adalah flat picture profile terbaik untuk mendapatkan dynamic range terlebar dan jika kita berencana untuk melakukan color grading. Dengan S-Log2 gamma mode ini, kita akan mendapatkan fleksibilitas untuk mengolah detail informasi shadow, highlight  dan warna pada saat editing.

Tanpa S-Log2
Tanpa S-Log2, perhatikan bagian detail highlight di jendela yang hilang (washed out)
Dengan S-Log2, informasi detail pada bagian highlight dan shadow tetap terjaga.
Dengan S-Log2 (ungraded), informasi detail pada bagian highlight dan shadow tetap terjaga.
S-LOG2-UNGRADED
S-Log2 (ungraded)
S-LOG2-UNGRADED-2
S-Log2 (graded)

 

High Frame Rate (HFR Mode),  fitur ini tadinya hanya ada di tipe camcorder dengan sensor besar seperti pada FS700. Thanks to teknologi stacked sensor yang membuat kamera ini mampu merekam slow motion pada mode HFR dengan pilihan frame rate 250fps (10x Slow Motion), 500fps (20x Slow Motion), dan 1000fps (40x Slow Motion). Wow! 1000fps?! Jangan senang dulu… Karena semakin tinggi frame-rate, detail gambar semakin berkurang.  Berikut tabel perbandingan resolusi pada frame rate berbeda:
Tabel resolusi HFRYah… di 1000fps cuma 1136 x 384px dan hanya bisa rekam selama 2 detik? 1136 x 384px is good enough kok jika (sekadar) buat diunggah ke Instagram. Resolusi Instagram video saat ini masih 360p untuk landscape video.  Dan 2 detik pada 1000fps, bakal jadi klip sepanjang 80 detik (40x slow motion). 

Perbandingan resolusi dan slow motion dalam frame rate berbeda. 

Video super slow motion yang saya buat saat jalan-jalan ke Flores

Dual Video Record
Fitur ini penting banget buat yang suka jalan-jalan dan update status ke social media dengan video. Dengan mengaktifkan fitur ini, kamera akan merekam 2 format file sekaligus yaitu XAVC-S  dan MP4 720p. Oh ya, fitur ini hanya aktif pada frame rate  normal (4K 25p atau Full HD 25p).  Kenapa harus Dual Record? Karena file format XAVC-S tidak bisa dibuka di smartphone.

DUAL-VIDEO-RECORD-(TRANSFER)
File proxy MP4 bisa langsung diunduh ke smartphone via Wi-Fi (dengan Playmemories app)


Daya Tahan Batere

Untuk perekaman video terutama mode 4K dan HFR, battery life-nya agak menyebalkan. 1 batere nggak bisa bertahan lebih dari setengah jam. Tapi maklum sih, ukuran dan kapasitas batere-nya NP-BX1 juga tipis banget menyesuaikan dengan ukuran kamera. Tapi untunglah, baterenya bisa di-charge dengan powerbank via slot microUSB meskipun kondisi kamera sedang dipergunakan .
POWERBANK-2

Electronic View Finder
Walau ukurannya kecil, EVF-nya cukup berguna untuk shoot saat siang hari karena akan lebih mudah untuk mengecek apakah fokus dan exposure sudah benar ketimbang lewat LCD screen. Selain itu bisa juga dipakai sebagai point of contact untuk handheld shooting agar tidak terlalu goyang/bergetar.
EVF-AS-POINT-OF-CONTACT


In-Camera Apps
Salah satu keuntungan memakai kamera Sony adalah, banyak aplikasi yang bisa diinstal ke kamera dan sangat membantu untuk pembuatan video atau foto dengan teknik khusus.

APPS---PLAYMEMORIES
Bisa mengunduh apps langsung dari kamera

Cara menginstalnya bisa melalui dekstop dengan mengakses https://www.playmemoriescameraapps.com/portal/ atau langsung dari kamera dengan koneksi Wi-Fi. Untuk aplikasi berbayar, bisa dibeli dengan kartu kredit atau dengan redeem Playstation Network Card. Satu aplikasi berbayar bisa diinstal ke 10 kamera dengan menggunakan akun yang sama.

Kualitas Foto
Dari tadi hanya ngomongin kualitas video. Lalu untuk hasil fotonya bagaimana? Cek slide di bawah ini, atau langsung ke Flickr saya. Flores (RX100 IV)

Bagaimana? Cukup ‘teracuni’ untuk membeli kamera saku super kece ini? Atau ada pertanyaan? Silakan tulis komentar di bawah.

Tautan: RX10II Review

Comments

comments

19 thoughts on “Travel Video Dengan Kamera Saku RX100 IV”

  1. Kameranya keren. Videonya juga keren. Mungkin karena objectnya Bali jadi semuanya terlihat indah. Kamera saku ini asik juga dipake buat ngevlog.
    Video slowmotionnya keren banget.

  2. Mas Goen

    Cameranya emang ketjeh badai sih. Ngga ada filter thread, artinya ngga bisa masang filter dong? CMIIW

    Emang sih ada electronic ND filter, tapi cuma 3 stop. 3 stop di siang bolong ngga cukup mas buat main slow speed.

  3. Jadi s-log2 ini semacam HDR di fotografi ya? Software ngedit s-log2 pake apa brad?

    Gue sih pengen banget nih kamera, bisa masuk saku tapi cukup powerful ga kaya kamera pocket lainnya. Kemaren sempat nyobain RX100 MII beda banget sih.

    Untuk codec sendiri gue masih bingung sama XAVC-S karena selama ini tidak terlalu mempersoalkan warna (ga ngerti juga cara ngeditnya). MP4 masih jadi pilihan setia.

    Kalau ada promo kamera ini boleh dimasukkin dalam daftar pembelian selanjutnya.

  4. Om anggun, bikin reviewnya nebula 4000 donk. Dari semua semuanya. Termasuk alat2 yg busa ditopang. Misal sony A7s + lensanya apa aja gitu. Hehehehe. Nuwun

    1. Yang bikin review Nebula udah banyak. Yang bagus punya si Dave Dugdale di Youtube. Kalau pakai A7s, harus pakai lensa-lensa kecil. Misalnya pakai FE 28mm f/2.0 atau FE 35mm f2.8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge