[VIDEO PROJECT] SOSHORT PRODUKSI KE-4 & 5 DENGAN SONY A7S

Setelah memulai tayang perdana di Youtube sejak 7 bulan yang lalu, akhirnya #SOShort memasuki produksi ke-5.  Webseries yang ndak jelas maunya apa dan lucunya di mana ini, sampai saat blogpost ini ditulis sudah rilis sebanyak 27 episode.

Di produksi ke-4 & 5, saya memutuskan menjajal kemampuan kamera mirrorless bersensor full frame terbaru dari Sony untuk digunakan memproduksi webseries. Yaitu Sony A7s.

My A7s

Langsung ditonton saja yuk salah satu episodenya yang disyut menggunakan kamera ini. Tonton di kualitas HD ya!

Dua alasan utama kenapa saya memutuskan memproduksi SOShort dengan A7s:

  1. Low Light Performance. Kamera ini memiliki kemampuan ISO tertinggi sampai dengan ISO409600. Wow!  Sampai kamera ini pun terkenal dengan julukannya Low Light Monster. Belum ada kamera lain yang mampu mengalahkan performanya di ISO tinggi. Di bawah ini hasil screen capture dari footage yang saya shot dengan A7s di ISO32000 (bukan 3200 lho ya).  Gila, ISO segitu masih usable footage-nya. Beda banget dengan DSLR/DSLM merk lain yang saya pakai sebelumnya, di ISO1600 saja sudah bikin kethar-kethir karena sudah noisy.
    a7s ISO32000
    Klik untuk melihat ukuran asli

    Footage aslinya bisa diunduh di sini.  Dengan kemampuan low light segila ini, saya jadi bisa lebih menghemat video light yang dipakai. Ndak perlu lagi sewa lighting yang gedhe-gedhe semacam Kinoflo. Cukup pakai LED video light kalau hanya untuk produksi webseries.

  2. Dynamic Range. Kamera ini mempunyai kemampuan  14+ stops dynamic range dengan mengaktifkan S-Log2 Picture Profile. Jauh di atas kemampuan rata-rata dynamic range DSLR merk lain yang hanya sekitar 10-11+ stops. Dynamic range adalah sejauh mana kemampuan (sensor) kamera untuk menampilkan detail informasi bagian gelap (shadow) sampai bagian paling terang (highlight), dan terutama terlihat dalam kondisi pencahayaan yang kontras. Dengan kemampuan dynamic range setinggi ini, artinya saya bisa lebih percaya diri ketika harus syut pada kondisi subyek dengan pencahayaan latar yang jauh lebih terang seperti di screenshot di bawah ini.
    Screen Shot 2014-10-03 at 2.25.02 AMSaya ndak perlu lagi khawatir background jadi washed out atau subyek jadi underexposed. Gambar jadi lebih berasa  cinematic. Saya juga bisa lebih leluasa melakukan color grading.

 

Kemampuan lain dari A7s yang saya suka:

  1. 4K ready. Kamera ini bisa merekam output 4K 4:2:2 8bit pada resolusi QFHD (3840×2160) ke external recorder seperti Atomos Shogun via HDMI. Saya membayangkan pada suatu saat nanti, dengan resolusi 4K saya bisa  mendapatkan fleksibilitas lebih saat post production. Dengan cukup 1 (satu) shot 4K, setidaknya bisa saya crop menjadi 3 (tiga) shot size berbeda untuk output FullHD. Istilah untuk teknik ini adalah axial cutting. Dengan demikian, waktu produksi menjadi lebih hemat.
  2. Body-nya kecil. Saya bisa bawa kamera ini ke mana-mana walau cuma pakai tas selempang (jika pakai lensa pancake). Bisa buat stealthy shooting. Hehehe… Oke ini ilegal.
  3. EVF. Electronic View Finder A7s ini membantu banget untuk syuting outdoor dengan kondisi cahaya matahari terik. Coba kalau pakai DSLR, mau ndak mau harus pakai LCD karena Optical View Finder-nya ndak bisa buat mode video. Kecuali kalau mau repot-repot pasang EVF tambahan.
  4. Bisa mengunduh aplikasi-aplikasi keren langsung ke kamera dengan koneksi Wi-Fi! photo 2Kita bisa membeli aplikasi (ada yang gratis juga kok) dengan kartu kredit, atau dengan PlayStation Network Card. Satu aplikasi bisa diinstal ke maksimal 10 kamera. Dua aplikasi yang paling saya suka adalah Motion Shot dan Smooth Reflection. Bisa membuat efek seperti foto di bawah ini.

    photo 1
    Atas: Motion Shot app. Bawah: Smooth Reflection app.
  5. Slow Motion 60fps (1080p) dan 120fps (720p).  DSLR lain hanya mampu 60fps di 720p.
  6. XAVC S Codec. Ini codec yang sungguh cakep! Dengan bitrate yang  tidak terlalu besar (50Mbps), mampu menghasilkan detail gambar jauh di atas codec rata-rata yang dipakai kamera lain (AVCHD). Untuk diedit pun masih ringan.

 

Sedangkan yang  ndak saya suka dari A7s:

  1. Batere. Iya, boros banget.  Tapi bukan karena kameranya yang boros, melainkan karena dimensi baterainya yang memang kecil (setengah dari rata-rata dimensi batere DSLR lain). Tapi untunglah harga baterenya cukup murah. Dan lagi pula, ada solusi bisa charge batere dengan powerbank.
  2. Tombol record yang kecil dan letaknya sungguh nyeleneh. Entah apa maksudnya Sony menaruh tombol rekam video di posisi ini dan sekecil ini.photo-2
  3. Body. Untuk urusan durabilitas body, saya masih mengagumi Nikon, Canon, bahkan Panasonic dengan GH4-nya. Baru kepakai syuting masih hitungan jari, body A7s saya sudah ada 2 bekas goresan. Hiks.

Lain kali, saya ingin mencoba Panasonic GH4 dengan kemampuan internal 4K video recording-nya. Ada yang mau minjemin? Hihihi…

Foto-foto behind the scenes.
Terimakasih teman-teman SOS Project dan RED Network yang sudah  bekerja bareng memproduksi SOShort!

Dari sekian banyak video SOShort yang sudah dirilis di sini, episode mana yang menurut sampeyan paling oke? Atau kalau misalnya ndak ada yang oke, apa saran & kritik sampeyan?

Tautan:

Comments

comments

6 thoughts on “[VIDEO PROJECT] SOSHORT PRODUKSI KE-4 & 5 DENGAN SONY A7S”

  1. .

    Webseries yang nggak jelas maunya apa dan lucunya di mana ini,

    ..
    ini mesti gara2 ada yg komen garing di twit kmaren hahaha cuekin saja lah, mas. selera & prespektif orang beda-beda. wong kadang ada acara lucu di tipi saya ngakak, istri saya malah bengong nyari lucunya hihi

    kalo menurut saya sih ya lucu2 aja, walau mungkin kebanyakan lucu2an kaum urban, karena sutingnya kebanyakan di kota #lospokus

    eniwei, sony A7S nya bener2 monster, ISO 32000 itu beneran iso apa ae jeh. Pantes aja Canon ga ada apa2nya. Fitur2 di atas walau banyak yg saya ga ngerti, tp tampaknya sudah memenuhi kebutuhan njenengan.

    Soal tombol kecil itu, mungkin fungsinya biar nggak salah/sengaja kepencet, atau sengaja biar anti mainstream

    *duh komen saya panjang :D *
    Begitulah :D

  2. Aku makin mantap deh dengan keputusanku untuk mengadopsi Sony a6000. Tampaknya, kinerjanya tak beda jauh amat dengan Sony a7s.
    Terima kasih atas tinjauan yang telah dilakukan. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge